Opini | Filosofi dari rambut gondrong


Filosofi rambut panjang atau gondrong. "Semua orang pernah muda, tapi tak semua orang pernah gondrong," kata tersebut di jadikan sebagai landasan bagi orang yang memiliki rambut gondrong yang sedang viral di media sosial, memang betul sekali dengan perkataan tersebut, namun kalo di kaji lebih dalam lagi tidak hanya berlandasan seperti itu. Dilansir dari Elbalad, mantan Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jumah, mengatakan memanjangkan rambut pria bukanlah dari sunnah yang berpahala bagi seorang Muslim. 
Menurutnya, Nabi Muhammad ﷺ pernah memendekkan dan memanjangkan rambutnya, sehingga mencukur rambut tidak dianggap sebagai dosa. 
Anjuran Rasulullah Saw. Rambut adalah untuk memuliakannya atau merawatnya. Rasulullah ﷺ bersabda: 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وآله وسلم قَالَ: مَنْ كَانَ لَهُ شَعرٌ فَلْيُكْرِمْهُ
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa mempunyai rambut hendaklah dia memuliakannya (merawat)." (HR Abu Dawud). Maka dalam hal memanjangkan rambut bagaimana tidak hanya sekedar dipanjangkan sja, tetapi bagaimana juga di rawat dengan baik seperti, ketika sedang mandi harus di kasih shampo serta seusai mandi pun bagaimana juga dikasih pewangi rambut seraya kondisioner dan pewangi rambut lainnya, serta juga bagaimana ketika rambut itu semakin memanjang pola pikir dan intelektualnya juga semakin bertambah. jadikanlah hal tersebut sebagaimana mestinya yang tidak melenceng dari kebenaran, dan harus dilandaskan pada aturan umum, seperti menutup aurat serta tidak untuk meniru perempuan.

Opini | Hakikat keterampilan dalam menulis

Menulis adalah salah satu keterampilan yang dimiliki oleh sebagian orang di dunia ini, sehingga ada yang berpendapat bahwa menulis itu membosankan dan pulau juga adalah sebuah bentuk dari seni. Pertanyaannya di posisi manakah kita dalam keterampilan tersebut.?Menulis memang bakat yang di miliki oleh orang-orang yang sudah di doktrin oleh keadaan, sehingga rasa membosankan tersebut sirna dalam dirinya, memang harus ada unsur di paksa hingga pada akhirnya bisa dan terbiasa, apapun itu jika dipaksakan pasi akan terbiasa apalgi cuman dalam hal tulis menulis. Sebagian orang yang memiliki skill dalam publik speaking yang bagus itu sebenarnya berawal dari tulisan yang bagus, tak heran bila diri kita dalam menyampaikan sesuatu hal, baik prestasi, berpidato, dan semacamnya, jika apa yang kita sampaikan itu agak rancu meski sudah mempersiapkannya mateng-mateng terkadang masih saja ada problem nya, seperti apa yang ingin di sampaikan langsung hilang begitu saja dan bahkan menyembuhkan demam panggung, itu sebenarnya kesalahan yang realita terletak pada ketika kita menulis, jadi pada dasarnya menulis itu adalah salah satu cara untuk membuat kosakata yang udah di ketahui itu mudah di ingat dan memperlancar proses dalam berbicara, dan alangkah lebih bagus nya lagi membaca buku sekaligus di iringi dengan mencatat dengan apa yang sudah kita baca dengan menggunakan bahasa yang berbeda, artinya sekali kita membaca langsung di tulis tampa melih isi teks tersebut, hal sepele namun luar biasa jika di aplikasikan.

Puisi | Langkah ku

Bismillah, yang selalu terucap di setiap kakiku berpijak, dengan harap yang indah di mata,
meski kehidupan ini di singgahi oleh berbagai cobaan dan rintangan nan selalu menghalang dalam kehidupan, tetapi kolbu ini tetap hangat dan dingin di kala cobaan melanda
yang tuhan beri, mungkin semua ini adalah awal dari kesuksesan, tak ingin frustasi bila raga ini mulai mencintai diri sendiri, Karna  mencintai seseorang tak ada ruang lagi bagi ku, udah cukup rasanya di khianati oleh janji absurd yang beraroma pengkhianatan. Tiga tahun membawa rasa baru yang tak pernah di rasakan sebelumnya, di tahun ini memberi harapan palsu nan menjadi debu api neraka.

Puisi | Alfatihah untuk mu

       
Bumi Pertiwi, kau melahirkan sebuah nama yang tak asing lagi di telinga para intelektual, apalagi dengan sayir-syair yang bermahabbah di kala membaca, raga mu tak bisa ku tatap di dunia nyata, namun sajak dan perjuangan mu di kala itu masih hidup dan tetap permanen di buku dunia, aku yang sekarang merasakan manisnya hidup dikarenakan perjuangan mu di masa lampau, tak bisa ku ucap langsung dengan kata terimakasih, hanya alfatihah yang bisa kulantunkan di setiap berpapasan dengan Tuhan, mengharap barokah. Andai kau masih ada, mungkin virus-virus yang usai mencabut beribu jiwa di berbagai negara di puisikan oleh mu, generasi muda bangsa tak seraya dengan mu, pun juga karya. Meski dalam kitab Islam di suruh menulis dan membaca, namun beberapa saja yang bisa, “Si Binatang Jalang” teruntuk mu, terimakasih.

Puisi | Kantong kehidupan

Perbanyak relasi agar mudah duduk di kursi
Bukan menyendiri memegang hp di depan lemari
Ingin jadi orang sukses namun tak banyak proses
Hobinya memprotes laksana orang stres
Pun ingin pintar namun tak serius dalam belajar
Duniawi di kejar hingga ujung-ujungnya kesasar
Melibatkan tuhan dikala dibutuhkan
Tak berpikir dirinya siapa yang menciptakan
Cintailah ilmu dan buatlah ilmu mencintai mu 
Karna hal itu yang membuat mu tau siapa dirimu
Bersabarlah dikala cobaan terus melanda 
Toh itu hanya sekedar sementara 
Bangkitlah dan lari dari kenyamanan hidup
Sebelum penyesalan membuatnya meredup












Puisi | Selembar kertas kenangan

Kertas itu ada bait motivasi yang besar pembangkit raga yang menghampa, di tulis dengan tinta cairan dari hati yang begitu bening. Namun di balik itu, ternyata ada hal yang merusak sebuah cerita tentang bagaimana masa depan ingin bersama, merangkai hal nan belum terjadi dengan rasa yang sama di setiap waktu berganti pakaian kabarpun di tanyakan prihal baik atau tidaknya, sembari melebarkan senyuman tampa ada paksaan, seperti yang ku alami sekarang ingin tersenyum pun di paksakan oleh keadaan. Janji palsu, kenangan menjadi debu dikarenakan komitmen di akhiri dengan kesepakatan, padahal tak ingin ku lakukan, namun posisi mu sekarang di prioritaskan bersama dia aku tidak, makasih.

Puisi | Rokok dan secangkir kopi

Ini cerita cinta tentang rokok dan kopi. Yang di ciptakan oleh tim barista, di berbagai tempat pun ada. Mereka berdua selalu bersama dimana pun berada, rokok yang tak pernah sukar meski kopi bermain rasa di belakang dengan gula, kesetiaannya begitu besar, membuat para pemuda cemburu hingga ingin memperkosa di warung pesta, bercumbu di siang dan malam nan di saksikan oleh banyak orang. Aroma cantiknya kopi merayu hidung para lelaki, begitupun dengan rokok yang begitu tampan rupawan, membuat birahi wanita bergairah mencium bibir manisnya.

Puisi | Di barista

Di barista sunyi dan sepi menyendiri hanya berteman rokok dan pahit nya kopi. Tak ada pembeli meski sudah di tawarkan dengan senyum manis agar memesan, kembali lagi di barisan tangga sembari merajut asa di kala gerimis hujan berteman dinginnya angin nan menerpa, gelas-gelas kosong menunggu kedatangan air hangat dan dingin bila ada pesanan, namun realisasinya tak ada, melebarkan senyuman agar menghampiri ku, sembari berkata saya mau memesan kopi susu yang manis dan nasi goreng Jawa dengan bumbu rempah nan gurih serta di buat penuh dengan rasa cinta, namun faktanya tak ada.