Puisi | Rokok dan secangkir kopi

Ini cerita cinta tentang rokok dan kopi. Yang di ciptakan oleh tim barista, di berbagai tempat pun ada. Mereka berdua selalu bersama dimana pun berada, rokok yang tak pernah sukar meski kopi bermain rasa di belakang dengan gula, kesetiaannya begitu besar, membuat para pemuda cemburu hingga ingin memperkosa di warung pesta, bercumbu di siang dan malam nan di saksikan oleh banyak orang. Aroma cantiknya kopi merayu hidung para lelaki, begitupun dengan rokok yang begitu tampan rupawan, membuat birahi wanita bergairah mencium bibir manisnya.

Puisi | Di barista

Di barista sunyi dan sepi menyendiri hanya berteman rokok dan pahit nya kopi. Tak ada pembeli meski sudah di tawarkan dengan senyum manis agar memesan, kembali lagi di barisan tangga sembari merajut asa di kala gerimis hujan berteman dinginnya angin nan menerpa, gelas-gelas kosong menunggu kedatangan air hangat dan dingin bila ada pesanan, namun realisasinya tak ada, melebarkan senyuman agar menghampiri ku, sembari berkata saya mau memesan kopi susu yang manis dan nasi goreng Jawa dengan bumbu rempah nan gurih serta di buat penuh dengan rasa cinta, namun faktanya tak ada.

Puisi | Gelora rindu

Aku termangu pada waktu itu,
Sebuah kebahagiaan yang tak rancu dalam lubuh hatiku yang paling dalam, tersimpan rasa yang tak bisa di ungkapkan. Gelora rindu yang ku ukir dalam-dalam, menghasilkan berjuta makana, dan tak bisa di tafsirkan. Waktu singkat, namun sangat berharga, ku abdikan dengan senja, melihat sekumpulan raga berpijak sembari bahagia di atas ranah yang sama. Dunia ini jadi saksi prihal semua itu.
Ya Tuhan ku, sang pembangkit Sukma, pertemukan lah kami semua dalam berwarna mu yang nyata.

Puisi | Hujan di bulan November

Hujan. Tuhan menurunkan mu bukan untuk membuat pribumi yang sedang mempunyai kepentingan mengeluh dengan kehadiran mu.
Namun tuhan sua memberi kepada orang yang membutuhkan disana, yang sedang di landa hujan mari berusaha mencari solusi bukan malah mengeluh dan frustasi, lebih baik mensyukuri atas nikmat tuhan, sang pemberi rezeki nan tak pernah pilih kasih. Jika masih ada tangga yang tersisa pijakilah, selagi nafas belum tertutup rapat.

Puisi | Merdeka atau mati


Merdeka atau mati. Tragedi kelam masih di kenang setiap tanggal seperti banyaknya malaikat yang wajib diketahui di bulan ke sebelas. Para pahlawan, sejarah mu masih permanen dalam buku Indonesian, menolak lupa prihal kejadian tatkala itu, para pahlawan tak bersayap memberanikan diri untuk negeri merah putih. Pertumpahan darah pun terjadi, hingga bahkan ada yang mati demi sang ibu pertiwi. Merdeka atau mati, nan pasti mereka dengan menuhankan keyakinan, menjadikan tujuannya tercapai demi sang merah putih. Bukan abra kadabra seraya di televisi, kita sebagai penikmat hidup di dunia yang tidak redup, pula tak ada yang namanya pencurian nyawa.
   FKMSB Yogyakarta, 10 November 2021

Puisi | Buah bibir

Buah bibir hijrah dari tempat ke tempat lain, membawakan syair yang indah bagi dirinya tapi tidak pada realitanya, membawa pada dunia nan hitam. Di tambah dengan asyiknya buah bibir, dikala keramaian di suatu tempat. Sementara dia sadar akan kenikmatan tersebut adalah konsep dari musuhnya manusia. 

Puisi | Merindu Congkop

  .

 

    

Dimakan waktu tak wajib,

Yang wajib diabaikan.

Hanya demi layar kaca.

Mata terlalu terhipnotis olehnya,

Tak ada ruang tempat untuk singgah,

Terkadang ku terbawa arus permainan,

Di hipnotis kembali dengan kegembiraan.

Ruang waktu yang telah tiada,

tak ada waktu memohon kepada sang khalik.

Sungguh, segalanya ku abadikan,

detik-detik perpisahan kini tampak dengan adanya

begron modernisasi tempat.

Kini bahagia  berkilau di benak  ku dan mereka,

      

 

Puisi | Menabung kesedihan

       
Merajut mimpi dari tubuh,
Memulai kebahagiaan dalam lingkaran.
Sedih, bahagia, dan segala rasa yang ada.
Menarik senyum lebih lebar dengan kebersamaan.
Menabung kesedihan dalam-dalam.
Dan menulis jika ingin berbicara,
Karena menulis adalah cara ku berbicara ketika orang lain tidak ada yang mendengarkan.